JalanTersembunyi
Selasa, 22 Maret 2016
Ayahku Pembohong
Jumat, 18 Maret 2016
Shinjitsu (Kebenaran)
Shinjitsu (Kebenaran)
Menatap pohon sakura di halaman rumahku melalui jendela kamar yang masih membeku,
aku kembali memikirkan sesuatu sambil bermalas-malasan di ranjang. Hawa dingin
masih menyeruak dan masih jahil mencubiti kulit jika saja tidak mengenakan
pakaian berlapis. Bahkan sekarang aku juga menyalakan pemanas ruangan meski
tubuhku sudah kubungkus dengan selimut. Tapi karena mulai bosan menatap pohon
itu, aku pun menyambar ponselku di atas meja yang berwarna biru serta dihiasi
stiker doraemon itu dan mulai membuka
memo-memo yang sering kucatat –jika perlu- dari dosen maupun teman kuliahku.
Kepakan sayap kecilmu mencuri perhatianku.
Gerak tanganmu, seakan menuntunku untuk mengikutimu.
Setiap malamku, teringat akan ketulusan matamu dan cerita dalam diammu.
Tersesat aku, terjatuh dalam indahnya pesonamu.
Melupakan bagaimana cara bernafas, aku mabuk oleh indahmu.
Tidak bisa lepas mata ini melihat cara dudukmu yang lembut seperti waltz.
Mata ini, selalu mengikuti kemana pun kau melangkah.
Mengingat lirik lagu Korea yang
menurutku benar-benar mengatakan isi hati lelaki ini, aku jadi teringat akan teman-temanku
yang notabene kebanyakan koreanholic
atau penggemar setia K-pop sering menyinggungku jika menolak seseorang yang
sudah mencintaiku dengan tulus dan penuh pengorbanan itu sama saja
menyia-nyiakan kesempatan emas yang tidak mesti datang untuk kedua kalinya. Itu
artinya bodoh. Begitulah yang mereka katakan.
Ah masa sih? Benar atau tidak ya?
Atau malah sesat? Ajaran dari mana ya? Atau efek aneh karena peralihan musim di
bulan Maret ini?
Yah, semacam itulah pertanyaan yang
sering muncul di pikiranku. Pikiran seorang Natsumi Yukimura yang alhamdulillah
seorang gadis muslim sejak lahir dan tinggal bersama keluarga muslim terpencil
di Sapporo, Hokkaido, Jepang. Dan umurku juga baru menginjak 18 tahun pada
Agustus tahun lalu, jadi maklum saja jika aku masih labil, apalagi tentang
cinta. Yah, cinta memanglah masalah remaja paling sepele namun kenyataannya dia
mampu meracuni otak kita sampai tubuh ini lumpuh total. Ya, perasaan ini mulai
membuat keimananku goyah ketika lelaki Nasrani bernama Jun’ichi Aoyama itu menyatakan cintanya padaku dan tentu
mengajakku berpacaran saat diselenggarakannya Yuki Matsuri atau Festival Salju
yang sangat terkenal di Hokkaido. Aku masih ingat betul ucapannya, singkatnya
meski kami berbeda ia mengatakan pasti kami bisa bersama karena cinta tidak
memandang ras, umur, fisik, jenis kelamin, dan agama. Astagfirullah, itu ajaran versi mana lagi ya?
Mengingat itu akupun
mengucap istigfar lagi. Jangan-jangan
lelaki itu juga menganggapku sama seperti lirik lagu Korea tadi? Astagfirullah, Ya Allah ampunilah
hamba-Mu yang sering khilaf ini, hamba benar-benar tidak bermaksud tabbaruj¹ di depan laki-laki yang bukan
mahram hamba. Hamba hanya.....mengaguminya.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamarku,
pasti Ibu.
“Masuk saja Ibu,” ucapku yang
disusul suara pintu dan tentu senyuman Ibu. Tentu saja, Beliau tahu aku sedang
galau tidak menentu. Sekarang coba pikir, memang sih aku jarang bertemu Aoyama-san² di kampus, hanya beberapa kali
karena kami beda fakultas, tetapi perempuan mana yang tidak goyah jika
disenggol tentang perasaan? Sekuat-kuatnya perempuan, pasti ada kelemahannya
yaitu hatinya karena kaum hawa memang lebih sering memakai perasaan daripada
logika. Sudah kodrat dari Allah.
Beliau nampak tenang ketika
melangkah mendekatiku, lalu Ibu duduk di ranjangku, aku pun bangkit untuk memeluknya,
berusaha mencurahkan betapa gelisahnya diriku. Aku terus berusaha meyakinkan
diriku, perasaan untuk Aoyama-san hanya
kekaguman. Hanya karena dia presiden mahasiswa, terkenal di kampus karena
kepintaran dan bakatnya, serta merupakan orang yang sangat supel. Aku hanya
senang dapat berteman dengan orang sepertinya.
“Apa Ibu harus mengalihkan topik
sejenak agar kamu tidak pusing?” tawar beliau begitu halus, aku pun mengangguk
mengiyakan. “Rembulan saja selalu tertawa dan bintang-bintang pun senantiasa
bertepuk tangan ceria. Lantas, atas dasar apa kita harus mati terbunuh dan
mudah tercekik hanya oleh kegelisahan semata?”
Mataku pun membulat. Kata-kata Ibu
ada benarnya juga.
“Kamu hanya memikirkan cinta sesaat yang
mulai terburu nafsu karena setan saja sudah seperti ini, bagaimana nanti jika memikirkan
kamu meninggal akan dimakamkan dengan uang dari mana?”
Aku mengangguk setuju. Masalah cinta
palsu begini memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan masalah
seorang muslim meninggal di negeri yang mayoritas beragama Shinto ini. Makam muslim di Jepang hanya ada di Koshu, Kobe, dan
Yoichio. Memang Yoichio berada di Hokkaido meskipun di bagian yang terpencil
tetapi untuk dapat dimakamkan di sana secara Islami itu memang penuh perjuangan.
Jujur saja aku menabung dari sekarang untuk mempersiapkan sebuah lahan kecil di
sana untuk mengembalikan tubuh lemah ini ke asalnya yaitu tanah. Ya Allah,
maafkan hamba yang mudah khilaf dan mudah tergoda setan ini, kuatkan hamba Ya
Allah.
“Jadi kamu sudah mengerti?” Ibu
mengelusi rambutku begitu lembut, aku kembali mengangguk.
“Arigatou
gozaimashita Okaa-san³.”
“Anak pintar. Segera putuskan ya?
Ibu tidak mau titipan dari Allah yang sangat Ibu sayangi ini terjatuh karena
kerikil kecil, anak Ibu pasti bisa bangkit dan melangkah di jalan Allah lagi
bukan?” beliau bangkit setelah tersenyum lagi untuk menghiburku lalu melenggang
dari kamarku agar aku bisa menelepon Aoyama-san
secepat mungkin.
Dengan kemantapan hati tanganku
meraih kembali ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas bantal, lantas jariku
menyentuh nomor kontak pemuda itu dan aku mulai menghela napas panjang begitu
menempelkan benda elektronik itu di dekat telinga kananku.
“Bismillah....kuputuskan semua ini sebab
kebenaran cinta hanya ada satu yaitu Allah semata.....”
^%^
[1] Segala perbuatan wanita (pakaian, riasan, tingkah)
yang menarik perhatian lelaki. Baik diniatkan maupun tidak.
² Panggilan yang
ditujukan untuk orang yang baru dikenal atau yang lebih dihormati.
³ Terima kasih, Ibu.
Biodata narasi
Nama
asli saya Wahyu Nugraeni namun lebih sering menggunakan nama pena Wahyu
Yoshinoyuki jika mempublikasikan fanfiction di facebook maupun blog. Asli orang
Ungaran dan sekarang saya masih berkuliah di Universitas Negeri Semarang dan
mengambil program studi bahasa Jepang. Meskipun saya penggemar anime dan
K-popers mania, namun impian terbesar saya selain menjadi penulis terkenal
sekaliber Pipiet Senja dan J.K. Rowling ialah dapat menulis sekaligus berdakwah
seperti Ustad Felix kepada semua orang sampai ke negeri impian saya di Jepang.
Langganan:
Postingan (Atom)